23 September 2026
Kenapa Karyawan Tanpa Career Goals Lebih Rentan Resign?
Karyawan tanpa career goals yang jelas dapat lebih rentan kehilangan arah, terutama ketika tidak melihat peluang belajar, berkembang, atau berpindah ke peran yang lebih sesuai. HR dapat mengurangi risiko tersebut melalui career conversation, development plan, internal mobility, dan assessment yang membantu memetakan aspirasi karyawan.
Seorang karyawan bisa saja merasa nyaman dengan pekerjaan hari ini, tetapi belum tentu melihat alasan untuk bertahan dalam dua atau tiga tahun ke depan. Ketika pekerjaan hanya terasa seperti rutinitas tanpa arah pengembangan, pertanyaan seperti “setelah ini saya akan ke mana?” mulai muncul.
Situasi tersebut penting diperhatikan HR. Karyawan tidak selalu resign karena gaji atau beban kerja. Ketidakjelasan mengenai masa depan karier juga dapat menjadi sinyal bahwa hubungan jangka panjang antara karyawan dan perusahaan mulai melemah.
Apa Hubungan Career Goals dengan Retention?
Career goals memberikan gambaran mengenai masa depan yang ingin dicapai karyawan. Ketika tujuan tersebut dapat dihubungkan dengan peluang di perusahaan, karyawan memiliki alasan yang lebih konkret untuk melihat organisasi sebagai bagian dari perjalanan kariernya.
Career pathing menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu memberikan kejelasan mengenai masa depan karyawan sekaligus menyelaraskan tujuan individu dan organisasi. Sebaliknya, ketika perusahaan tidak memiliki ruang untuk membicarakan karier, karyawan dapat mencari jawabannya sendiri, termasuk dengan melihat peluang di perusahaan lain.
Baca juga: Cara Mengurangi Turnover Karyawan dengan Assessment yang Tepat
Mengapa Karyawan Tanpa Career Goals Bisa Lebih Rentan Resign?
Tidak semua karyawan yang tidak memiliki career goals pasti akan resign. Namun, ketidakjelasan arah karier dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko disengagement dan turnover.
Tidak Melihat Masa Depan di Perusahaan
Karyawan mungkin memahami pekerjaannya hari ini, tetapi tidak mengetahui apa yang dapat dicapai setelahnya. Jika tidak ada career path yang jelas, posisi saat ini dapat terasa seperti titik akhir, bukan tahap dalam perjalanan karier.
Sulit Melihat Manfaat Pengembangan
Training akan terasa lebih relevan ketika karyawan memahami skill tersebut diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu. Tanpa tujuan, program pengembangan dapat dianggap sebagai kewajiban administratif daripada investasi untuk masa depan.
Merasa Karier Stagnan
Karyawan yang terus menjalankan pekerjaan yang sama tanpa tantangan atau peluang berkembang dapat merasa bahwa kariernya tidak bergerak. Perlu dipahami bahwa career growth adalah salah satu aspek penting dalam employee experience dan menyarankan percakapan pengembangan yang membantu karyawan melihat peluang belajar dan tanggung jawab baru.
Lebih Mudah Tertarik pada Tawaran Eksternal
Ketika perusahaan lain menawarkan posisi dengan jalur perkembangan yang lebih jelas, karyawan yang tidak melihat masa depan di perusahaan saat ini dapat lebih mudah mempertimbangkan peluang tersebut.
Hubungan dengan Manager Tidak Membahas Masa Depan
Masalahnya terkadang bukan tidak adanya kesempatan, tetapi tidak adanya percakapan. Sebagian besar voluntary leavers tidak mendapatkan percakapan proaktif mengenai masa depan karier mereka menjelang meninggalkan organisasi.
Tanda Karyawan Mulai Kehilangan Arah Karier
HR dan manajer dapat memperhatikan beberapa sinyal berikut:
Tidak mengetahui posisi yang ingin dituju.
Tidak tertarik mengikuti development program.
Sering mengatakan pekerjaannya terasa monoton.
Tidak melihat peluang internal yang menarik.
Mulai aktif mencari pekerjaan eksternal.
Tidak memahami hubungan pekerjaannya dengan tujuan jangka panjang.
Performance masih baik, tetapi engagement menurun.
Satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa karyawan akan resign. Namun, kombinasi beberapa sinyal dapat menjadi alasan untuk membuka career conversation.
Baca juga: Cara Mengidentifikasi Minat Kerja Kandidat: Panduan untuk HR
Bagaimana HR Membantu Karyawan Menentukan Career Goals?
Career development tidak seharusnya menjadi tanggung jawab karyawan sendirian. Perusahaan perlu menyediakan struktur yang membuat proses tersebut lebih mudah.
Mulai dengan Career Conversation
Manajer dapat menanyakan:
Apa pekerjaan yang ingin kamu lakukan dalam 1–3 tahun?
Skill apa yang ingin kamu kuasai?
Tanggung jawab seperti apa yang ingin kamu ambil?
Apa yang membuat kamu tertarik bertahan di perusahaan?
Dukungan apa yang kamu butuhkan?
Buat Development Plan
Setelah tujuan diketahui, HR dan manajer dapat menyusun langkah konkret berupa training, mentoring, project assignment, job rotation, atau exposure ke fungsi tertentu.
Berikan Internal Career Opportunities
Career goals akan kehilangan makna jika perusahaan tidak memiliki peluang yang dapat dituju. Karena itu, internal mobility perlu menjadi bagian dari talent strategy, bukan sekadar solusi ketika ada posisi kosong.
Gunakan Assessment sebagai Data Pendukung
Assessment dapat membantu HR memahami profil individu secara lebih objektif. Namun, hasil assessment sebaiknya digunakan sebagai salah satu input, bukan sebagai keputusan tunggal mengenai masa depan seseorang.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Karyawan Sudah Ingin Resign?
Jangan langsung menganggap resign sebagai masalah yang harus “diperbaiki”. HR perlu memahami alasan sebenarnya.
Lakukan stay interview atau career conversation untuk menggali:
Apa yang membuat karyawan mempertimbangkan resign?
Apakah ada masalah dengan pekerjaan saat ini?
Apakah ada kebutuhan pengembangan yang belum terpenuhi?
Apakah karyawan melihat peluang karier di perusahaan?
Apa yang dapat membuat mereka mempertimbangkan untuk bertahan?
Pendekatan tersebut membantu perusahaan membedakan antara masalah yang masih dapat ditangani dan keputusan resign yang memang sudah final.
Jangan Tunggu Karyawan Resign untuk Membahas Karier
Retention bukan hanya tentang membuat karyawan bertahan lebih lama. Perusahaan juga perlu memberi alasan yang masuk akal bagi mereka untuk melihat masa depan di organisasi. Career goals membantu menciptakan arah tersebut, terutama ketika didukung oleh development plan dan peluang internal yang nyata.
Untuk HR yang ingin memetakan career goals, ideal career, dan work culture kandidat atau karyawan, lihat Career Match Psikologiehub. Ingin mulai tanpa langsung berkomitmen pada paket berbayar?Jadwalkan sesi konsultasi atau Hubungi Tim Psikologiehub untuk membahas kebutuhan assessment dan retention perusahaan.
FAQ
1. Apakah career goals yang tidak jelas pasti menyebabkan resign?
Tidak. Resign dipengaruhi banyak faktor, tetapi ketidakjelasan arah karier dapat menjadi salah satu faktor risiko.
2. Bagaimana HR mengetahui career goals karyawan?
HR dapat menggunakan career conversation, performance discussion, employee survey, talent review, dan assessment sebagai sumber informasi.
3. Apa assessment yang dapat membantu career planning?
Career Match dapat menjadi salah satu pilihan karena mencakup Career Goals, Ideal Career, Work Culture, dan profil diri.
4. Apakah kenaikan gaji cukup untuk meningkatkan retention?
Tidak selalu. Kompensasi penting, tetapi peluang berkembang, hubungan dengan manager, pekerjaan yang bermakna, dan career path juga berperan dalam retention.
Berita & Artikel Terkait
Cara Menentukan Career Goals yang Jelas untuk Karyawan
Pelajari cara menentukan career goals yang jelas bagi karyawan, mulai dari mengenali tujuan hingga menyusun rencana karier bersama HR.
SELENGKAPNYA
Tes Kognitif adalah: Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya untuk HR
Tes kognitif adalah alat ukur kemampuan berpikir yang dipakai HR saat rekrutmen. Pahami jenis, manfaat, dan cara bacanya di sini
SELENGKAPNYA
Career Match untuk Rotasi Karyawan: Bantu Keputusan Mutasi Internal
Pelajari bagaimana Career Match dan assessment membantu HR menentukan kecocokan karyawan untuk rotasi dan mutasi internal secara lebih terarah.
SELENGKAPNYA